QS. Al-Hadid : 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. .

QS. Al-An'am : 153

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS. Al-Israa' : 9

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.

Hadits Rasulullah SAW

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan).

QS. Al-Israa' : 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

Pandangan islam tentang Tradisi NYEKAR menjelang bulan Ramadhan

   Diantara yang kerap dilakukan muslimin dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan selain padusan adalah nyekar, nyekar ini telah menjadi tradisi yang mengakar dimasyarakat dan dilakukan setiap kali menjelang puasa.

   Perlu kita ketahui, Nyekar adalah tradisi datang ke makam leluhur untuk menabur bunga, berdoa, dan tak jarang dilanjutkan dengan acara kendurenan atau makan bersama di sekitar tanah kuburan. Bagaimana pandangan islam terhadap tradisi ini? Marilah kita renungkan penjelasan berikut :

   Orang boleh saja beranggapan bahwa nyekar adalah tradisi dan tak perlu dicarikan dalil dari Al-quran atau Hadits.. Silahkan kalau memang beranggapan begitu. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa sebuah tradisi tetaplah harus ditinjau kebenarannya dengan timbangan syar’i, bukan dengan akal. Hanya tradisi-tradisi baik yang tidak menyalahi nash saja yang boleh diikuti. Dimanakah letak ketidaksesuaiannya tradisi nyekar dengan nash-nash syar’i?

   Sama seperti Artikel saya yang lalu tentang padusan, nyekar selalu dikaitkan dengan persiapan menghadapi ibadah puasa,seperti halnya tradisi padusan. Berarti ini bukan murni sebuah tradisi duniawi, akan tetapi sudah menyangkut urusan agama, dalam masalah agama amalan apapun yang kita lakukan haruslah berdasarkan dalil yang shahih dari Al-quran dan hadits, semua hal yang berkaitan dengan urusan agama, apabila tidak ada contoh dari Rasulullah, seharusnya kita jauhi. Rasulullah bersabda :

...” Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) dengan sesuatu yang bukan berasal darinya, maka hal itu tertolak.”[HR. Bukhari]

    Selain itu, acara nyekar dimana orang berziarah ke makam leluhur untuk berdoa, dan tak jarang dilanjutkan dengan acara makan-makan atau kendurenan, merupakan tradisi yang sering kali mengarah kepada kesyirikan. Orang datang ke kuburan tidak lagi untuk mengingat kematian dan mendoakan orang yang meninggal, namun justru sebaliknya malah mengalap berkah atau memohon pertolongan kepada penghuni kuburan tersebut. Ini jelas sebuah kesyirikan yang tidak semestinya dilakukan seorang muslim.

   Mungkin ada orang yang berpendapat, nyekar diasumsikannya sebagai ziarah kubur, dan ziarah kubur itu di perintahkan dalam islam. Perlu kita cermati dari berbagai sisi, yang pertama, memang benar ziarah kubur dianjurkan oleh Rasulullah setelah sebelumnya dilarang. Namun demikian,  hendaknya diingat apa yang melatarbelakangi pembolehan ziarah kubur ini. Ziarah kubur dianjurkan didalam islam karena hal itu akan membuat jiwa semakin mengingat kematian dan bersiap-siap menghadapinya, selain itu dianjurkan juga untuk tujuan mendoakan orang yang telah mati.perhatikan penjelasan hadits-hadits berikut:

...” Sesungguhnya Aku dulu melarang kalian dari ziarah kubur, Dan sekarang telah diijinkan bagi Muhammad SAW untuk berziarah ke makam Ibunya. Karena itu, berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya hal itu mengingatkan akan akhirat.” [HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Imam Albani]

‘Aisyah menuturkan dari Nabi SAW bahwa beliau Bersabda : jibril berkata, “Sesungguhnya Rabbmu menyuruhmu untuk mengunjungi penghuni baqi’ (kuburan muslimin dikota madinah) dan memohonkan ampun untuk mereka.” ....[HR. Muslim]

   Dari hadits-hadits diatas , jelaslah bahwa hikmah disyariatkannya ziarah kubur adalah untuk mengingat akherat, dan mendoakan orang yang telah meninggal. Adapun dalam tradisi nyekar seringkali justru menyimpang dari tujuan semestinya dari ziarah kubur.

   Sisi lain yang juga perlu kita cermati, nyekar ini biasanya mengkhususkan momentum ziarah hanya ke makam leluhur, meski untuk itu orang harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Jelas islam tidak mencontohkan hal itu, karena tujuan yang sebenarnya dari ziarah kubur adalah untuk mengingat kematian. Dan hal itu bisa dilakukan di kuburan manapun tanpa  mengkhususkan di kuburan leluhur.

   Kesimpulannya adalah, nyekar adalah tradisi yang tidak dicontohkan di dalam syariah islam, dan karenanya tak layak untuk diikuti, kalaupun ingin ziarah kubur, lakukanlah hal itu di kuburan manapun dan diwaktu kapanpun juga tanpa harus mengkhususkan ke makam leluhur, atau menjelang bulan puasa saja. Hal ini untuk menghindari kemungkinan anda terbawa dalam arus tradisi nyekar yang jelas bertentangan dengan nash syariat.
Allahu’alam Bish Showab.

Orang Mati Di minta Tolong?

Budaya ziarah kubur sudah mengakar kuat disebagian wilayah kita, terutama diwilayah jawa. Beratus ribu kocek dikeluarkan untuk acara ini. Mending hanya sebatas ziarah (meski mending tetap terlarang lho!), acara ini biasa tercoreng dengan ngalap berkah kepada para penghuni kubur dan memohon pertolongan kepada mereka. Meski tidak rasional, masih saja sebagian masyarakat melakukannya. Trus gimana sich hukum sebenarnya meminta tolong kepada orang mati?
 
Sebuah pertanyaan berbunyi, “Apakah hukumnya meminta pertolongan kepada seseorang yang telah mati, seperti mengatakan “Berilah pertolongan, Wahai fulan.” Dan apa hukumnya bila meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup, tetapi tidak berada di situ?”

JAWABAN :

Pertama, orang yang meminta pertolongan kepada seseorang yang sudah mati seperti ucapan itu wajib dinasehati dan diperingatkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang haram bahka syirik. Jika dia tetap ngotot maka dia sudah menjadi musyrik dan kafir karena dia meminta kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh selain Allah. Dalam hal ini dia telah mengalihkan hak Allah kepada makhluknya-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka...”(Al-Maidah: 72)

Kedua, meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup dan tidak ada ditempat, hukumnya tidak boleh karena ia merupakan bentuk permohonan (doa) kepada selain Allah. Ini juga bentuk syirik. Allah berfirman. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya..." (Al-Kahfi: 110)

Memohon kepada orang hidup dan tidak ada ditempat (ghaib) merupakan bentuk ibadah, siapapun yang melakukannya kudu diberi nasehat, jika dia tidak menerima maka dia adalah seorang musyrik yang telah berbuat sesuatu yang mengeluarkan dirinya dari agama ini.

Kumpulan Fatwa
Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan penggodokan fatwa hal.77


Share : majalah elfata
 

Bahaya Syirik



 Pokok ajaran islam adalah Tauhid, Tauhid/Aqidahnya harus lurus, yakni menghambakan diri hanya kepada Allah, apabila aqidahnya tidak lurus akan muncul syariat-syariat yang tidak lurus pula, maka dari itu Aqidahnya harus lurus, dan ibadahnya harus benar, Aqidahnya bersih dari syirik dan ibadahnya bersih dari bid’ah.

Aqidah yang bercampur syirik jangan harapkan pahala, syirik itu merusak semua amal yang pernah dilakukannya, disamping amalnya rusak dosanya pun tidak diampuni, Allah berfirman :

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.(QS. Al-An’am: 88)

Dalam ayat diatas jika kita berlaku syirik kepada Allah maka semua amalan yang pernah dilakukannya akan hilang, meskipun shalatnya rajin, puasa wajib atau sunnah tidak pernah ditinggalkannya, bahkan sudah melakukan ibadah haji juga, dan ibadah-ibadah lainnya, itu semua akan hilang apabila dicampur dengan kesyirikan kepada Allah. Kalau amalan yang pernah dilakukannya rusak semua lantas apa yang diharapkannya untuk menghadap Allah nanti?

Kemudian dosa syirik itu, selain merusakkan amal perbuatan yang pernah dilakukannya, perbuatan syirik itu membawa dosa yang besar, sedangkan dosa yang besar itu tidak diampuni oleh Allah, Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’: 48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’: 116)

Kalau amal perbuatannya rusak, dan dosanya tidak diampuni, maka sudah pasti tempatnya kembali mereka adalah neraka. Allah berfirman :

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.(QS. Az-Zumar: 16)

Orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka nanti akan diberikan kepada mereka lapisan-lapisan api diatas mereka dan dibawah mereka, ibaratnya tempat untuk tidur/tikarnya itu api dan selimutnya juga api, kalu sudah seperti itu, kemudian apa yang bisa kita harapkan?.

Oleh karena itu janganlah kita berbuat syirik, bertaqwalah kepada Allah, artinya untuk tunduk patuh itu hanya kepada Allah, jangan kepada yang lain. Allah tidak mau dipersekutukan dengan yang lain, bahkan Allah paling murka, apabila dipersekutukan dengan yang lain, karena selain Allah itu semuanya adalah makhluk, sedang Allah itu pencipta semua makhluk. Masak makhluk disamakan dengan penciptanya. Maka dari itu Allah tidak mengampuni dosa syirik, kalau dosa selain syirik Allah masih berkenan untuk mengampuninya kepada siapa yang dikehendaki.

Wallahu ‘Alam Bish-Showab