Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Desember 2012
Musibah Hanya Sementara
Allah berfirman:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Insyiraah: 5-6].
Hasan
Al-Bashri berkata bahwa dulu orang-orang mengatakan: “ satu kesulitan
takkan mengalahkan dua kemudahan”.(Tafsir Ibnu Katsir 4/525) maksudnya,
kesulitan yang dirasakan dalam dua keadaan, rasanya sama saja. Adapun
kemudahan rasanya berbeda-beda. Jadi, kesulitan yang pertama sama saja
dengan kesulitan yang ke dua, sedang kemudahan itu berbeda-beda.
Janji
Allah Adalah benar, sesungguhnya jika kamu mengalami kesulitan,
ketahuilah sesudah kesulitan itu ada kemudahan, bersabar dan tetap
beprasangka baiklah terhadap Allah apapun kesulitan yang menimpa dirimu,
dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan.
Semua
ketetapan Allah yang ditetapkan pada hambanya tak ada yang sia-sia,
walaupun itu suatu kesulitan, tetapi dibalik itu ada pelajaran yang
dapat dipetik, mungkin akal kita yang tidak bisa menerima
kesulitan itu, tetapi Allah telah menyiapkan segalanya, mungkin dengan
melalui jalan kesulitan itulah, kebahagiaan akan kamu dapatkan, atau
kesuksesan akan kamu raih.
Karena
itu, Wajiblah bagi seorang muslim berbaik sangka terhadap Rabbnya dan
menyadari bahwa berbaik sangka terhadap Allah SWT merupakan ibadah dan
pendekatan kepada-Nya yang berpahala. Rasulullah bersabda :
Sesungguhnya berbaik sangka itu termasuk ibadah yang baik.[HR. Imam Ahmad 2/297]
Semua Orang Pasti Mengalami Kesedihan
Semua
orang pasti mengalami kesedihan, begitulah memang, kita semua hendaknya
mengingatkan diri kita masing-masing bahwa seluruh bani adam yang ada
dimuka bumi ini, meski berbeda tempat dan derajatnya sendiri-sendiri,
semua pasti ditimpa kesedihan dan hal-hal yang tidak diinginkan, sama
seperti hal-nya yang dialami orang lain. Karena itu, hendaklah orang
yang sedang bersedih hati menghibur dirinya, bahwa bukan dia sendiri
yang mengalami kesedihan. Itulah sebabnya Allah ta’ala menghibur
Nabi-Nya dan para sahabatnya ketika mereka mendapat musibah besar pada
perang Uhud, umpamanya. Waktu itu Allah SWT berfirman yang artinya :
“Jika
kamu (pada perang uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir
itupada perang badar telah mendapat luka yang serupa.... .” [QS. Ali Imran : 140]
Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakita (pula) sebagaimana yang kamu derita. [QS. An-Nisa’ : 104]
Seorang ulama salaf berkata : “Di antara
hal-hal yang paling efektif bagi orang yang terkena musibah ialah
hendaknya ia memadamkan api musibahnya dengan embun keteladanan yang
telah dicontohkan oleh orang lain, yang juga terkena musibah. Dia
hendaknya juga menyadari bahwa disetiap desa dan kota, disetiap rumah,
bahkan dimana saja, selalu ada orang yang terkena musibah.” [Tasliyat Ahl al-Masha’id, hal. 20]
Waktumu adalah Nyawamu
Ibnul Qayyim berkata:
“ Waktu bagi seseorang pada hakikatnya adalah umurnya, ia adalah materi
hidupnya untuk memperoleh nikmat abadi yang menyenangkan. Sebaliknya,
ia bisa juga menjadi materi kehidupannya yang hampa, di mana dia
mendapat siksa yang pedih. Waktu berjalan bagi jalannya awan.
Barangsiapa waktunya digunakan untuk Allah dan dengan Allah, itulah
hidupnya dan umurnya. Adapun Waktu yang selain itu, tidaklah terhitung
hidupnya, meskipun kala itu dia hidup bebas bagaikan kehidupan binatang,
jika dia menghabiskan waktunya dalam kelalaian, main-main, dan
angan-angan yang batil, sedang sebaik-baik waktu yang dia gunakan hanya
untuk tidur dan bermalas-malasan, maka matinya orang itu lebih baik
daripada hidupnya.”(Al-Jawab Al-Kafi hal.183)
Jadi,
menurut Ibnul Qayyim waktu ibarat umur atau nyawanya manusia, dan
dengan waktu itu ia akan memperoleh kenikmatan yang abadi apabila
mempergunakan waktu itu untuk Allah dan dengan Allah, maksutnya ia
mempergunakan waktu itu hanya untuk hal-hal yang diridhai Allah dan
dengan Allah artinya hidup dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan
Allah. Dan waktu itu bisa juga menjadikan kehidupan ini terasa hampa,
tidak ada nilainya sama sekali, apabila ia mempergunakan waktu itu untuk
hal yang sia-sia, untuk main-main. Apalagi hanya digunakan untuk tidur
dan bermalas-malasan, maka apabila kehidupannya hanya digunakan seperti
itu, tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Padahal manusia itu
diberi kelebihan oleh Allah berupa akal, dengan akal itu seharusnya
manusia bisa memilih sesuatu yang membawa kebaikan untuknya.
Imam Ar-Rabbani Hasan Al-Bashri juga berkata:
“ Hai anak adam, sesungguhnya kamu tak ubahnya seperti hari-hari.
Setiap kali pergi satu hari, maka setiap itu pula pergi sebagian dari
dirimu”.(Hilyat Al-Auliya’ karya Al-AshFahani 2/148)
Maksutnya
Imam Ar-Rabbani Hasan Al-Bashri mengibaratkan anak adam (manusia)
seperti hari-hari, setiap satu hari yang kita lewati, maka jatah
waktu/hari yang diberikan kepada kita itu berkurang juga satu hari,
misalkan kita diberi jatah hidup itu 30 hari, maka semakin banyak hari
yang akan kita lewati, semakin hilang pula bagian jatah hidup kita, dan
lama-lama waktu 30 hari itu akan habis, dan apabila waktu itu habis maka
habis pula hidup kita, berarti mati.
Maka
dari itu setiap manusia pasti akan mati, waktu akan habis, mumpung
Allah masih memberikan kesempatan waktu untuk hidup, maka pergunakanlah
waktu itu dengan baik, pergunakan waktu itu untuk hal-hal yang bisa
mendekatkan dirimu dengan Allah, pergunakanlah hidupmu dengan
aturan-aturan Allah. Maka waktu yang digunakan seperti itu yang akan
memperoleh kenikmatan yang abadi, yakni surga. Insya Allah
Wallahu ‘alam bish-showab
Tetaplah Semangat
Tidak
ada gunanya berkeluh kesah dan bersedih hati, kalau hanya untuk
menyesali suatu musibah yang telah terjadi. Bersedih hati hanya akan
menambah penderitaan dan sakit hati, karena taqdir Allah akan tetap
berlaku tanpa diragukan. Bersedih hati dan menyesal hanya akan membuat
musibah akan terasa berat dalam hati dan kepedihan menjadi
berlipat-ganda. Sebaliknya, dengan bersabar dan memohon kepada Allah,
maka semua akan menjadi kecil, bahkan mungkin tidak terasa sama sekali.
‘Ali bin Abi Thalib berkata:
“ sesungguhnya jika kamu bersabar, maka taqdir apapun yang berlaku pada
dirimu, kamu akan mendapat pahala karenanya. Sebaliknya, jika kamu
berkeluh kesah, maka taqdir akan tetap berlaku pada dirimu, sedang kamu
berdosa”. [Minhaj Al-Abidin karya Al-Ghozali, hal. 239]
Oleh
karena itu, Tinggalkan kesedihan, dan bersabarlah...jika kamu bersabar
akan ada pahala untukmu, tetapi jika kamu berkeluh-kesah dan bersedih
hati, semua itu takkan bisa mengubah yang telah terjadi, dan kamu akan
berdosa dengan ketidaksabaranmu.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“
Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya segala urusannya
menjadi kebaikan, dan itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali pada
orang yang beriman. Jika ia dikaruniai kesenangan, lalu dia bersyukur,
maka itu menjadi kebaikan baginya. Begitu juga jika ia ditimpa musibah,
lalu dia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2295, no. 2999]
SEMANGAT...SEMANGAT... DAN SEMANGATLAH.














