QS. Al-Hadid : 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. .

QS. Al-An'am : 153

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS. Al-Israa' : 9

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.

Hadits Rasulullah SAW

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan).

QS. Al-Israa' : 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

Musibah Hanya Sementara





Allah berfirman:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Insyiraah: 5-6].

Hasan Al-Bashri berkata bahwa dulu orang-orang mengatakan: “ satu kesulitan takkan mengalahkan dua kemudahan”.(Tafsir Ibnu Katsir 4/525) maksudnya, kesulitan yang dirasakan dalam dua keadaan, rasanya sama saja. Adapun kemudahan rasanya berbeda-beda. Jadi, kesulitan yang pertama sama saja dengan kesulitan yang ke dua, sedang kemudahan itu berbeda-beda.

Janji Allah Adalah benar, sesungguhnya jika kamu mengalami kesulitan, ketahuilah sesudah kesulitan itu ada kemudahan, bersabar dan tetap beprasangka baiklah terhadap Allah apapun kesulitan yang menimpa dirimu, dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan.

Semua ketetapan Allah yang ditetapkan pada hambanya tak ada yang sia-sia, walaupun itu suatu kesulitan, tetapi dibalik itu ada pelajaran yang dapat dipetik, mungkin akal kita yang tidak bisa  menerima kesulitan itu, tetapi Allah telah menyiapkan segalanya, mungkin dengan melalui jalan kesulitan itulah, kebahagiaan akan kamu dapatkan, atau kesuksesan akan kamu raih.

Karena itu, Wajiblah bagi seorang muslim berbaik sangka terhadap Rabbnya dan menyadari bahwa berbaik sangka terhadap Allah SWT merupakan ibadah dan pendekatan kepada-Nya yang berpahala. Rasulullah bersabda :

Sesungguhnya berbaik sangka itu termasuk ibadah yang baik.[HR. Imam Ahmad 2/297]

Semua Orang Pasti Mengalami Kesedihan




Semua orang pasti mengalami kesedihan, begitulah memang, kita semua hendaknya mengingatkan diri kita masing-masing bahwa seluruh bani adam yang ada dimuka bumi ini, meski berbeda tempat dan derajatnya sendiri-sendiri, semua pasti ditimpa kesedihan dan hal-hal yang tidak diinginkan, sama seperti hal-nya yang dialami orang lain. Karena itu, hendaklah orang yang sedang bersedih hati menghibur dirinya, bahwa bukan dia sendiri yang mengalami kesedihan. Itulah sebabnya Allah ta’ala menghibur Nabi-Nya dan para sahabatnya ketika mereka mendapat musibah besar pada perang Uhud, umpamanya. Waktu itu Allah SWT berfirman yang artinya :

“Jika kamu (pada perang uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itupada perang badar telah mendapat luka yang serupa.... .” [QS. Ali Imran : 140]

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakita (pula) sebagaimana yang kamu derita. [QS. An-Nisa’ : 104]

Seorang ulama salaf berkata : “Di  antara hal-hal yang paling efektif bagi orang yang terkena musibah ialah hendaknya ia memadamkan api musibahnya dengan embun keteladanan yang telah dicontohkan oleh orang lain, yang juga terkena musibah. Dia hendaknya juga menyadari bahwa disetiap desa dan kota, disetiap rumah, bahkan dimana saja, selalu ada orang yang terkena musibah.” [Tasliyat Ahl al-Masha’id, hal. 20]

Waktumu adalah Nyawamu



Ibnul Qayyim berkata: “ Waktu bagi seseorang pada hakikatnya adalah umurnya, ia adalah materi hidupnya untuk memperoleh nikmat abadi yang menyenangkan. Sebaliknya, ia bisa juga menjadi materi kehidupannya yang hampa, di mana dia mendapat siksa yang pedih. Waktu berjalan bagi jalannya awan. Barangsiapa waktunya digunakan untuk Allah dan dengan Allah, itulah hidupnya dan umurnya. Adapun Waktu yang selain itu, tidaklah terhitung hidupnya, meskipun kala itu dia hidup bebas bagaikan kehidupan binatang, jika dia menghabiskan waktunya dalam kelalaian, main-main, dan angan-angan yang batil, sedang sebaik-baik waktu yang dia gunakan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan, maka matinya orang itu lebih baik daripada hidupnya.”(Al-Jawab Al-Kafi hal.183)

Jadi, menurut Ibnul Qayyim waktu ibarat umur atau nyawanya manusia, dan dengan waktu itu ia akan memperoleh kenikmatan yang abadi apabila mempergunakan waktu itu untuk Allah dan dengan Allah, maksutnya ia mempergunakan waktu itu hanya untuk hal-hal yang diridhai Allah dan dengan Allah artinya hidup dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah. Dan waktu itu bisa juga menjadikan kehidupan ini terasa hampa, tidak ada nilainya sama sekali, apabila ia mempergunakan waktu itu untuk hal yang sia-sia, untuk main-main. Apalagi hanya digunakan untuk tidur dan bermalas-malasan, maka apabila kehidupannya hanya digunakan seperti itu, tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Padahal manusia itu diberi kelebihan oleh Allah berupa akal, dengan akal itu seharusnya manusia bisa memilih sesuatu yang membawa kebaikan untuknya.

Imam Ar-Rabbani Hasan Al-Bashri juga berkata: “ Hai anak adam, sesungguhnya kamu tak ubahnya seperti hari-hari. Setiap kali pergi satu hari, maka setiap itu pula pergi sebagian dari dirimu”.(Hilyat Al-Auliya’ karya Al-AshFahani 2/148)

Maksutnya Imam Ar-Rabbani Hasan Al-Bashri mengibaratkan anak adam (manusia) seperti hari-hari, setiap satu hari yang kita lewati, maka jatah waktu/hari yang diberikan kepada kita itu berkurang juga satu hari, misalkan kita diberi jatah hidup itu 30 hari, maka semakin banyak hari yang akan kita lewati, semakin hilang pula bagian jatah hidup kita, dan lama-lama waktu 30 hari itu akan habis, dan apabila waktu itu habis maka habis pula hidup kita, berarti mati.

Maka dari itu setiap manusia pasti akan mati, waktu akan habis, mumpung Allah masih memberikan kesempatan waktu untuk hidup, maka pergunakanlah waktu itu dengan baik, pergunakan waktu itu untuk hal-hal yang bisa mendekatkan dirimu dengan Allah, pergunakanlah hidupmu dengan aturan-aturan Allah. Maka waktu yang digunakan seperti itu yang akan memperoleh kenikmatan yang abadi, yakni surga. Insya Allah

Wallahu ‘alam bish-showab

Tetaplah Semangat




Tidak ada gunanya berkeluh kesah dan bersedih hati, kalau hanya untuk menyesali suatu musibah yang telah terjadi. Bersedih hati hanya akan menambah penderitaan dan sakit hati, karena taqdir Allah akan tetap berlaku tanpa diragukan. Bersedih hati dan menyesal hanya akan membuat musibah akan terasa berat dalam hati dan kepedihan menjadi berlipat-ganda. Sebaliknya, dengan bersabar dan memohon kepada Allah, maka semua akan menjadi kecil, bahkan mungkin tidak terasa sama sekali.

‘Ali bin Abi Thalib berkata: “ sesungguhnya jika kamu bersabar, maka taqdir apapun yang berlaku pada dirimu, kamu akan mendapat pahala karenanya. Sebaliknya, jika kamu berkeluh kesah, maka taqdir akan tetap berlaku pada dirimu, sedang kamu berdosa”. [Minhaj Al-Abidin karya Al-Ghozali, hal. 239]

Oleh karena itu, Tinggalkan kesedihan, dan bersabarlah...jika kamu bersabar akan ada pahala untukmu, tetapi jika kamu berkeluh-kesah dan bersedih hati, semua itu takkan bisa mengubah yang telah terjadi, dan kamu akan berdosa dengan ketidaksabaranmu.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“ Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya segala urusannya menjadi kebaikan, dan itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali pada orang yang beriman. Jika ia dikaruniai kesenangan, lalu dia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Begitu juga jika ia ditimpa musibah, lalu dia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2295, no. 2999]

SEMANGAT...SEMANGAT... DAN SEMANGATLAH.