Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Desember 2012
Muraqabatullah
Alkisah, tersebutlah seorang guru
yang tinggal bersama tiga orang muridnya. Namun, walaupun ketiga muridnya itu
belajar kepadanya, si guru memberikan perhatian lebih kepada salah seorang dari
tiga muridnya. Perlakuan guru iti, tentu saja menimbulkan pertanyaan di dalam
hati dua orang murid lainnya. Akhirnya, mereka berdua mendatangi guru mereka
dan bertanya, “ Wahai guru, mengapa engkau memberikan perhatian lebih kepadanya
dibandingkan perhatian guru kepada kami.”
Protes dari dua orang muridnya
ini ditanggapi oleh si guru dengan memanggil ketiga muridnya kemudian
memberikan seekor burung dan sebilah pisau kepada ketiganya, lalu berkata,
“ Wahai murid-muridku, sembilah burung
itu dengan sebilah pisau yang telah aku berikan kepada kalian pada tempat yang
sangat tersembunyi sehingga tidak ada yang melihat perbuatan kalian.
Ketiga muridnya itu pun berpencar
mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk si guru untuk menyembelih burung
itu. Setelah itu, ketiganya kembali mendatangi guru untuk melaporkan tugas yang
telah dilaksanakan. Di hadapan si guru, murid pertama berkata, “aku telah
berhasil melaksanakan perintah dan telah menyembelih burung itu di tengah hutan
dan tidak ada yang melihat perbuatanku,” sambil memperlihatkan burungnya yang
telah disembelih.
Lalu murid yang kedua melaporkan,
“ aku juga telah berhasil melaksanakan tugas dengan menyembelih burung itu di
puncak gunung dan tidak ada yang melihat perbuatanku.” Ia pun memperlihatkan
burung yang telah disembelihnya. Tetapi, tidak demikian dengan murid yang
ketiga. Ia belum menyembelih burung itu.
Di hadapan guru dan kedua
temannya, ia berkata, “ Aku tidak bisa melaksanakan perintah guru, sebab
dimanapun aku berada, walaupun orang lain tidak melihat perbuatanku, tapi Allah
senantiasa melihatnya,” kemudian si guru
berkata kepada kedua muridnya yang melakukan protes tadi, “ sikap itulah yang
membuatku lebih sayang dan lebih memperhatikan dia daripda kalian berdua”.
Sikap yang ditunjukkan ole murid
kesayang si guru seperti pada kisah di atas disebut dengan murahabatullah,
berasa dari kata raaqaba-yuraaqibu yang berarti mengawasi, mengamati, dan
mengawal. Dengan demikian, muraqabatullah berarti sikap seseorang yang selalu
merasa bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dan mengamati setiap tingkah
lakunya, dimanapun dan kapanpun.
Muraqabatullah berawal dari
keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang
dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan. Tidak ada perbuatan manusia
sedikit pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman :
Kepunyaan
Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu
melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah
akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah
mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya;
dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah : 284]
Tidakkah
kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan
di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah
keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah
keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau
lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah
mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[QS.
Al-Mujaadilah : 7]
Muraqabatullah
hendaknya menjadi sikap yang tertanam dalam jiwa setiap mukmin. Jika demikian,
maka segala bentuk kejahatan, kemungkaran, dan kebatilan yang bersifat
terang-terangan maupun yang secara sembunyi-sembunyi tidak akan ada lagi.
Muraqabatullah akan membawa setiap perbuatan kita senantiasa berorientasikan
kebaikan.
Senin, 17 Desember 2012
Pelajaran Hidup Dari Naufal
Ini
hanya sebuah petikan hikmah yang tertangkap disuatu sore terakhir puasa
2012. Saat seorang anak kecil milik tetangga yang berumur sekitar 2
tahun, kuajak untuk jalan sore naik motor sekedar cari takjil untuk
berbuka. Saat yang hendak dibeli sudah selesai, es krim yang dijanjikan
buat dia sudah ditangannya. Aku menawarinya lagi untuk mengambil jajanan
yang ia inginkan.
“Naufal mau apa lagi,?”
Dia menggeleng. Aneh ini anak, fikirku. Kuambilkan sebauh wafer dan jelly.
“Naufal mau ini, mas beliin yah ...” tanyaku lagi.
Dia
kembali menggeleng. Weleh .. kepriwe iki. Aku heran. Soalnya aku jarang
melihat anak kecil yang tidak mau waktu ditawari sebuah makanan. Aku
tak ingin penasaranku tersimpan lama.
“Kok naufal tidak mau, kenapa?”
Dia tersenyum. Menatap mataku dengan mata beningnya. Dengan suara lirih dia menjawab.
“Kata mamak Naufal, kalo jajan tidak boleh banyak-banyak”. Dan ia kembali tersenyum, masih dengan sepotong es krim ditangannya.
Subhanallah, Allahu akbar.
Sekarang
ini, betapa kita dapati banyak saudara kita, atau mungkin kita sendiri
yang selalu tidak puas dengan apa yang sudah ada digenggaman kita saat
ini. Seringnya, rasa syukur yang membaluti banyak nikmat dari Allah,
terlupakan. Dan masih memburu sesuatu yang tak ada digenggaman.
Menuruti nafsu ingin selalu terpuaskan, takkan pernah berhenti. Finisnya hanya liang kubur. Sore itu, aku belajar dari Naufal.
Dunia,
dengan semua perhiasannya. Baik berupa harta, tahta, kuasa, dan yang
lain sebagainya. Itu semua hanya sarana untuk mengumpulkan bekal
perjalanan pulang ke kampung akherat. Sarana yang bisa digunakan untuk
mencapai derajad takwa. Bekal terbaik untuk kelak menghadap Allah saat
pertanggungjawaban itu tiba.
Mengambil
dunia secukupnya, tapi berusaha mengumpulkan bekal takwa yang
sebaik-baiknya. Agar kelak saat pulang ke kampung akherat, kita tak
salah membawa bekal. Karena sekali lagi, bukan materi, kuasa, cinta anak
istri, atau yang lainnya yang akan menjadi bekal kita menghadap Allah.
Melainkan hanya takwa dan amal sholih kita.
Sahabat
... mari berlompa mengumpulkan bekal terbaik kita, bukan mari berlomba
mengumpulkan banyaknya “dunia” kita. Ambil secukupnya dari dunia, tapi
berusaha mendapat yang terbaik dari yang “cukup” itu.
Selamat melepas ramadhan, semoga kita selalu bisa mengambil pelajaran darinya. (maswe nunut curhat di blog e alberjowi)
Cincin
Beberapa waktu yang lalu, di
mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda
mendatanginya dan bertanya : “Master, saya belum paham mengapa anda mesti
berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman yang ini berpakaian
necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk keperluan
banyak hal lain.”
Sang sufi hanya tersenyum, ia
lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata : “Sobat muda,
akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku.
Ambillah cincin ini dan bawalah kepasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu
menjualnya seharga satu keping emas.”
Melihat cincin Zun-Nun yang
kotor, pemuda itu merasa ragu ; “Satu keping emas, saya tidak yakin ini bisa
terjual dengan seharga itu.”
“ Cobalah dulu sobat muda. Siapa
tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar,
ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging
dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli
saharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.
Tentu saja, pemuda itu tak berani
menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan
melapor : “ Master, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping
perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum
arif, berkata, “ Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini,
coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka
harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas
yang dimaksut. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. ia
kemudian melapor : “Master, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai
sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu
keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang
ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum sambil berujar
lirih : “Itulah jawaban dari pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa
dinilai dari pakaiannya. Hanya, “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar”
yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas.”
Emas dan permata yang ada dalam
diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke
kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses
wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilai hanya dengan tutur kata dan sikap
yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata
loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
“Kutipan dari buletin dakwah Madani”
Allah Maha Adil
Pada suatu hari yang terik
seorang musafir bermaksud mencari tempat untuk berteduh. Ia hendak melepas
kepenatannya setelah setengah hari pejalanan. Tidak lama kemudian dijumpainya
sebuah pohon beringin yang rindang dan berbuah lebat.
Disandarkan tubuhnya yang sudah
terasa berat pada batang pohon beringin itu. Sambil tiduran ditebarkannya
pandangan ke hamparan sawah di hadapannya. Tampak buah-buah semangka sebesar
bola terhampar di sawah itu.
Demi melihat pemandangan
tersebut, sang musafir bergumam sendirian, “sungguh tidak adil Allah itu. Pohon
beringin yang begitu kokoh dan kuat ternyata berbuah hanya sebesar buah anggur.
Sedangkan pohon semangka yang begitu kecil dan rapuh berbuah sebesar bola.” Tak
lama kemudian tertidurlah ia di bawah pohon beringin itu.
Tiba-tiba ada sebutir buah
beringin jatuh tepat mengenai kepala sang musafir. Ia terbangun. Dalam hati ia
berkata, “ seandainya saja buah beringin itu sebesar buah semangka entah
bagaimana keadaannya jika buah itu jatuh menimpa orang yang berteduh di bawahnya.
Sungguh Allah Maha Adil atas segala sesuatu.” Diucapkannya istighfar
berkali-kali untuk mohon ampun kepada-Nya karena telah berani mengatakan bahwa
Allah tidak Adil.
Cerita ini mungkin sangat
sederhana. Banyak orang sudah pernah mendengar atau membaca cerita tersebut.
Namun, sayangnya hanya sedikit saja orang yang bisa mengambil hikmahnya.
Sering orang beprasangka kepada
Allah atas segala kejadian buruk yang menimpanya. Bahkan terkadang sampai
berani menghujat-Nya dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil sehingga ada yang
sampai kehilangan keyakinan terhadap Allah sama sekali.
Baik atau buruknya segala sesuatu
itu hendaknya harus disandarkan pada aturan-aturan yang telah diturunkan Allah
kepada manusia (Alquran). Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia
adalah makhluk yang penuh keterbatasan dan kelemahan.
Seringkali dalam menilai segala
sesuatu manusia lebih menekankan pada unsur perasaannya saja. Tidak
mengherankan bila timbul prasangka-prasangka buruk kepada Allah, jika yang ada
dihadapan/dialaminya itu tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Padahal Allah dengan jelas telah
berfirman,
“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahu”.. [QS. Al-Baqarah : 216].
Jadi segala sesuatu yang ada di
dunia ini, pasti ada sisi baik yang bisa diambil oleh manusia, meskipun dalam
pandangannya teramat buruk karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi
hamba-Nya. Tidak sepatutnya manusia mengatakan bahwa Allah tidak adil.
Sesungguhnya tidak ada yang bisa melebihi ke-Mahaadilan Allah.
Telaga Cermin
Suatu ketika di sebuah sabana,
berkumpulah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau
muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat
menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.
Kaki-kai mudanya melintasi
rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya melihat waspada mengawasi
sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke
dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya.
Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana.
“hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”
Kucing besar itu masih tertegun
ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika
dia mundur menjauh, harimau di telaga itu pun lkut menghilang. Sesaat kemudian,
harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau itu masih ada.
Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “
akan kuberitahu yang lain. ada seekor harimau yang baik hati di tempat ini.”
Kabar tentang harimau dalam
telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik,
dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah ia di telaga
itu.Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups...
kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum,seraya
menyembulkan kepalanya kearah lubang telaga. “hei... ada harimau yang edang
marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali
menyeringai, menunjukkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah.
Ohho, ternyata harimau dalam telaga itu pun tak kalah, dan melakukan tindakan
serupa.
“Ah, temanku tadi pasti
berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya.
Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tidak mau
berteman dengan harimau yang ada di telaga itu.” Harimau yang masih marah itu
segera bergegas pergi.Rupanya ia tidak
menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, Sesungguhnya adalah pantulan dari
dirinya.
Pandangan orang lain, sama halnya
dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka.
Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan
kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan
balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan
memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.
Agaknya kita perlu mencari sebuah
cermin besar untuk berkaca. Menatap
seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah
dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah
saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap
wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah
yang bersahabat di dalamnya?”
Sepotong Roti Penebus Dosa
Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari
meriwayatkan ,bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada
puteranya: “wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seorang yang
mempunyai sepotong roti.”
Dahulu kala ada sebuah tempat
ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang
dilakukan itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah
ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi
pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam
bujuk rayunya dan tergelimag di dalam
dosa salama tujuh hari sebagai mana perkara yang dilakukan oleh pasangan
suami-istri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat
ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi
mengembara sambil disertai dengan mengerjakan sholat dan bersujud.
Akhirnya dalam mengembara itu ia
sampai ke sebuah pondok yang didalamnya sudah terdapat dua belas orang kafir
miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam disana,
karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sanga jauh, sehingga
akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.
Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendita yang ada setiap
malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang
menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sebuku roti.
Pada waktu yang lain, datang pula
orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di
pondok tersebut, begitu juga pada lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu
juga mendapat bagian, karena disangka sebagai orang miskin. Rupanya salah
seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak dapat bagian dari orang yang
membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu
berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku,” Orang yang
membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, Roti yang aku
begikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari
satu buku roti. ”Mendengar ungkapan dari orang yang membagi roti tersebut, maka
leleki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan
kepadanya dan mamberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan
keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.
Dihadapan Allah, maka
ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu
selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh
malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan
selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya
selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh
malam itu ditimbang dengan sebuku roti yang pernah diberikannya kepada fakir
miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sebuku roti tersebut dapat
mengalahkan perbuatan dosanya salama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa
berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sebuku roti
itu!”
Janganlah Berputus Asa
Kebiasaan orang-orang besar yang
dekat dengan Allah SWT, adalah berjalan-jalan disekelilingnya. Bukan sekedar
berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang
terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. begitu
pula dengan Imam Abu Hanifah.
Suatu hari, ketika Imam Abu
Hanifah tengah melakukan kebiasaanya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu
terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah
tersebut terdengar suara mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah
mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan
perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.
“Aduhai, alangkah
malangnya nasib ku ini,”suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas,
“agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh
celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi
atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Ohh, adakah hati
yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?”
Abu Hanifah
terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung
jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak
mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak
ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil
sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak di berikan bungkusan itu
kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.
Setelah tiba, Abu
Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang
meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk
sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.
Mendapati sebuah
bungkusan yang tiba-tiba datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan
terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati,
dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu
berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik
kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya,
“Hai Kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu
tidak pernah mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan
Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka
berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”
Karena diliputi
kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak
mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk
kebutuhan sehari-harinya.
Keesokan harinya,
Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan
itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas
Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,
sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak
beri, akan lebih sengsaralah hidupku,”ratapnya.
Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah lalu melemparkan lagi
bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah
menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya , lalu dia pun
meneruskan perjalanannya.
Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah
yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya.
Tapi setelah itu, ia membaca tulisan kertas yang tersampir bersama bungkusan
uang itu. “ Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar
dan berusaha. Perbuatan demikian “Malas”
namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak
ridha Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk
keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan
bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari
atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa
orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk
kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah.
Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa.
Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil.”
Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar
akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.
Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan.
Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia
juga tidak pernah melupakan orang yang telahmemberikan nasihat itu.
Pohon Berduri
Seorang pemuda menanam pohon
berduri di depan rumahnya. Walikota menyuruh si pemuda untuk memotong pohon
tersebut dengan kapak milik sang pemuda karena kekhawatiran akan bahaya yang
tidak hanya mengancam keselamatan si-pemuda tapi juga para pejalan yang kerap
lewat di depan rumahnya. Belum lagi bahaya-bahaya lain yang sangat mungkin
ditimbulkan dari pohon berduri itu. Namun sialnya pemuda kita ini menggangap
enteng dan terus menerus mengundur-undur waktu untuk menebangnya.
Roda waktu berputar tanpa henti.
Bulan berganti tahun, pohon berduri itu telah tumbuh membesar, akarnya
menghujam jauh kebumi, dahan dan rantingnya kini sudah menjulur kesana kemari.
Sementara pemuda ini telah berubah menjadi seorang kakek ringkih. Ketika
mengetahui pohon berduri itu telah benar-benar melukai dan menyengsarakan
dirinya dan banyak orang, kakek ringkih ini segera mengambil kapak berniat
untuk menebang pohon berduri tanamannya. Namun betapa sayangnya ayunan kapak si
kakek sudah tidak mampu lagi menggores kokohnya pohon. Usia uzur si kakek telah
merenggut kekuatannya untuk menumbangkan pohon berduri tersebut, hasil
tanamannya sendiri.
Maulana Rumi, penyair sufi
Afghanistan itu menuturkan cerita ini dalam Masnawi-nya. Rumi mengingatkan
kepada kita bahwa penundaan untuk menghentikan tindakan buruk hanya semakin
mengokohkan keburukan itu sendiri dan melemahkan energi untuk merubahnya. Di
dalam hati kita pohon berduri itu tumbuh saat kita melakukan keburukan kpada
Allah, diri sendiri dan sesama. Jangan menunggu waktu, karena tiap detik adalah
kesempatan mengakarkan, mengokohkan pohon itu disekujur tubuhmu. Ambilah kapak
imanmu segera sebelum terlambat untuk menumbangkannya. Penundaan hanyalah
melahirkan ketakberdayaan. Kelak saat kapak imanmu tak lagi tajam, tubuhmupun
sudah kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri itu bahkan kelak menusuk
mata, telinga dan hatimu. Sebelum telingamu bernanah oleh cemoohan, matamu
menangis oleh kedukaan tak berujung, dan hatimu berdarah oleh himpitan derita
dan azab, tebaslah pohon berduri itu. Janganlah berani melawan waktu, karena
waktu selalu menertawakan keringkihanmu.
Mentari dzulhijjah menutup mata
sudah. Rembulan satu muharram mengabarkan tahun baru. Jika hidupmu seperti
pekat malam, yakinlah selalu ada rembulan dan bintang yang mencerahkan. Sepekat
dan segelap apapun hidupmu, setitik cahaya pun mampu mengusir ketakutanmu. Di
tengah kegelapan hidup di mekkah dahulu, Rasul membawa sahabat-sahabatnya
menjemput cahaya kota madinah. Hijrah, mengubah hidup agar terarah. Hijrah,
meneguhkan hidup diatas bimbingan cahaya. Allah adalah cahaya langit bumi.
Allah adalah cahaya diatas cahaya (QS. An-Nur : 35).
Tekadmu adalah kapak itu.
Tebaslah kini pohon-pohon berduri di hatimu. Renggutlah akar-akarnya. Seperti
Ibrahim, kakekmu, menghancurkan berhala-berhala yang membatu disekujur tubuhmu.
Belajarlah kini menjadi petani yang selalu merindui hujan. Guyurilah hati dan
tubuhmu senantiasa dengan kebeningan rintik ayat-ayat Allah. Tanamlah berlahan
benih kejujuran, keikhlasan, kesabaran, tulus hati dan pengabdian kepada Allah.
Rawat dan pupuklah mereka secara sabar. Kelak diakhir tahun, saat mereka
berbuah, panen raya mendekapmu dalam bahagia. Saat hatimu lega dan bersuka
cita, berbagilah dengan sesama. Hatimu adalah surgamu. Bukan pohon berduri yang
seharusnya menempati, namun anggur Allah yang mestinya bersemayam. Selamat
menanam.
Kutipan beletin dakwah Madani
Air Mata
Dalam sebuah riwayat dikatakan
bahwa ada seorang Ustadz melihat seorang anak berwudhu ditepi sungai sambil
menangis. Ia bertanya “ Nak, mengapa engkau menangis?”
Anak tersebut menjawab, “ saya
membaca ayat alquran. ‘Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka’(At-Tahrim : 6). Saya kawatir, jangan-jangan Allah
memasukkan saya ke dalam neraka.”
Ustadz menjelaskan, “ Wahai anak
kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut,
kamu tdak berhak memasuki neraka.”
Anak tersebut menjawab, “ Wahai
Ustadz, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah ustadz tahu bahwa seseorang
yang menyalakan api untuk satu keperluannya, memulai dengan kayu-kayu yang
kecil baru kemudian yang besar?”
Dan ustadz pun menjawab..
Rasulullah SAW bersabda, “ Tiada
pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan
jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan
dihapuskan daripadanya satu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di
antara umat yang menangis niscaya mereka akan di rahmati. Tiada suatu amalpun
kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air mata.
Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.”
Tangisan orang-orang shalih
telahir dari khouf(rasa takut). Karena, dengan rasa takut inilah,
perbuatan-perbuatan dosa dapat dilenyapkan. Rasulullah menjelaskan, apabila
badan seseorang gemetar karena takut kepada Allah, maka jatuhlah segala
kesalahannya sebagaimana jatuhnya dedaunan dari pohonnya di musim kemarau.
Maka, Air mata yang jatuh karena
takut kepada Allah akan menumbuhkan jiwa yang selalu merasa diawasi Allah, ia
akan bersikap wara’( bersikap hati-hati), dan dia akan menjaga dirinya dari
perbuatan yang mengundang murka Allah.
Karena Setiap Kita Adalah Mutiara
Mitiara. Awalnya itu bukan
apa-apa. Hanya butiran pasir dan debu kotor. Yang tak ada harganya. Waktu yang
kemudian membentuknya, detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan
cangkang makhluk-Nya. Dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh
kesabaran. Pun kemudian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu
saja, kerena ia harus dijemput dikedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya
yang kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan
istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan bukan tidak
mungkin terhenti di tengah jalan.
***
Mungkin engkau pernah merasa
dirimu bukan apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, engkau membenci
dirimu sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia. Begitu banyak
kekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat
orang lain yang nampak lebih sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan,
rasanya kau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain begitu banyak memiliki kelebihan
sedang aku tidak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa aku buruk sedang
orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil sedang aku selalu gagal? Mengapa
orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu ‘mengapa’ lainnya yang akan
membuat kita kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangan-kekurangan yang
kita miliki.
Padahal saya percaya, setiap kita
tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhluk-Nya hanya dengan
kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya mudharat saja tanpa manfaat, atau
sebaliknya. Pun kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang
imbang. Dia yang Maha kuasa membekali manusia dengan segala kebaikan,
menjadikan setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang
kita alami telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke
permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di masa kecil kita,
kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.
Padahal, ibarat mutiara, kita tak
dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk membentuknya. Kita butuh
proses panjang untuk mendapatkan keindahannya. Dan proses ini, butuh
ketelatenan dan kesabaran.
Ya, sesungguhnya setiap kita
adalah mutiara yang memiliki pancaran keindahan kita masing-masing, seperti
apapun adanya kita awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya
menjadi berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.
Rintangan, hambatan, pengalaman,
pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun orang lain, tidak akan menjadi
masalah. Karena pada dasarnya kita adalah mutiara. Kita hanya harus berusaha
semaksimal kita, membuka mata, membuka telinga dan membuka hati.
Hanya satu awal yang perlu kita
lakukan: itikad dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi
mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi mutiara
seperti apa yang engkau inginkan?
***
Kutipan
dari buletin dakwah Madani
Kamu Kaya tapi Gila, MAU?
Dahulu ada seseorang yang miskin
mengadukan kondisi kemiskinannya kepada seorang Ahli ilmu, dia menampakkan kegundahan hati atas
keadaanya tersebut, mendengar dan
melihat kondisi orang miskin tadi, sang alim menasehatinya dengan cara
mengajukan beberapa pertanyaan. " sukakah kamu jika matamu menjadi buta
dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham sebagai gantinya ?" tanya sang
alim. " jelas saya tidak suka " jawab si miskin. Kalau begitu sukakah
engkau menjadi buta dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham "?. "
tentu saja tidak suka " jawabnya. " sukakah kamu jika engkau menjadi
gila dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham?". " tentu saja aku
tidak suka " jawab si miskin kesekian kalinya.
mendengar itu semua sang alim pun melontarkan nasehat emasnya. " apakah engkau tidak merasa malu kepada Allah, padahal engkau mempunyai barang yang nilainya lebih berharga dari puluhan ribu dirham "? Nasehatnya. Si miskin pun tersadar atas sikap ketidaksyukurannya.
mendengar itu semua sang alim pun melontarkan nasehat emasnya. " apakah engkau tidak merasa malu kepada Allah, padahal engkau mempunyai barang yang nilainya lebih berharga dari puluhan ribu dirham "? Nasehatnya. Si miskin pun tersadar atas sikap ketidaksyukurannya.
Dari kisah diatas, pukulan yang
telak bagi kita, apabila selama ini kita merasa kurang atas nikmat yang telah
diberikan Allah. kita selalu mengeluh
dengan keadaan kita, yang merasa rendah dari orang lain, terutama dalam
hal harta. Padahal kita ini ibaratnya mempunyai barang yang tidak bisa dinilai
lagi dengan uang sebanyak apapun, yaitu nikmat kesehatan.
Maka syukurilah keadaanmu
sekarang, jika dalam hal harta kamu merasa kurang, ketahuilah dengan kesehatan
yang kau rasakan saat ini, harta itu bisa engkau cari, Bisa engkau kumpulkan,
dan bisa engkau nikmati. Apa gunanya memiliki harta yang banyak, tetapi tidak
memberi manfaat sedikitpun bagi kita. Saat kita sakit ia tidak bisa meredakan
sakit itu, karena yang dibutuhka orang yang sakit bukanlah harta yang banyak,
tetapi suatu kesembuhan, untuk mendapatkan kesehatan.
Oleh karena itu syukurilah apapun keadaanmu sekarang,
berhentilah untuk mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Semua ketetapan Allah itu
tak ada yang sia-sia, jika belum engkau rasakan keindahannya, yakinlah mungkin
belum waktunya.



















