QS. Al-Hadid : 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. .

QS. Al-An'am : 153

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS. Al-Israa' : 9

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.

Hadits Rasulullah SAW

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan).

QS. Al-Israa' : 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Muraqabatullah



Alkisah, tersebutlah seorang guru yang tinggal bersama tiga orang muridnya. Namun, walaupun ketiga muridnya itu belajar kepadanya, si guru memberikan perhatian lebih kepada salah seorang dari tiga muridnya. Perlakuan guru iti, tentu saja menimbulkan pertanyaan di dalam hati dua orang murid lainnya. Akhirnya, mereka berdua mendatangi guru mereka dan bertanya, “ Wahai guru, mengapa engkau memberikan perhatian lebih kepadanya dibandingkan perhatian guru kepada kami.” 

Protes dari dua orang muridnya ini ditanggapi oleh si guru dengan memanggil ketiga muridnya kemudian memberikan seekor burung dan sebilah pisau kepada ketiganya, lalu berkata, “  Wahai murid-muridku, sembilah burung itu dengan sebilah pisau yang telah aku berikan kepada kalian pada tempat yang sangat tersembunyi sehingga tidak ada yang melihat perbuatan kalian.

Ketiga muridnya itu pun berpencar mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk si guru untuk menyembelih burung itu. Setelah itu, ketiganya kembali mendatangi guru untuk melaporkan tugas yang telah dilaksanakan. Di hadapan si guru, murid pertama berkata, “aku telah berhasil melaksanakan perintah dan telah menyembelih burung itu di tengah hutan dan tidak ada yang melihat perbuatanku,” sambil memperlihatkan burungnya yang telah disembelih.

Lalu murid yang kedua melaporkan, “ aku juga telah berhasil melaksanakan tugas dengan menyembelih burung itu di puncak gunung dan tidak ada yang melihat perbuatanku.” Ia pun memperlihatkan burung yang telah disembelihnya. Tetapi, tidak demikian dengan murid yang ketiga. Ia belum menyembelih burung itu.

Di hadapan guru dan kedua temannya, ia berkata, “ Aku tidak bisa melaksanakan perintah guru, sebab dimanapun aku berada, walaupun orang lain tidak melihat perbuatanku, tapi Allah senantiasa melihatnya,”  kemudian si guru berkata kepada kedua muridnya yang melakukan protes tadi, “ sikap itulah yang membuatku lebih sayang dan lebih memperhatikan dia daripda kalian berdua”.

Sikap yang ditunjukkan ole murid kesayang si guru seperti pada kisah di atas disebut dengan murahabatullah, berasa dari kata raaqaba-yuraaqibu yang berarti mengawasi, mengamati, dan mengawal. Dengan demikian, muraqabatullah berarti sikap seseorang yang selalu merasa bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dan mengamati setiap tingkah lakunya, dimanapun dan kapanpun.

Muraqabatullah berawal dari keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan. Tidak ada perbuatan manusia sedikit pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman :

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah : 284]

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[QS. Al-Mujaadilah : 7]

Muraqabatullah hendaknya menjadi sikap yang tertanam dalam jiwa setiap mukmin. Jika demikian, maka segala bentuk kejahatan, kemungkaran, dan kebatilan yang bersifat terang-terangan maupun yang secara sembunyi-sembunyi tidak akan ada lagi. Muraqabatullah akan membawa setiap perbuatan kita senantiasa berorientasikan kebaikan.




Senin, 17 Desember 2012

Pelajaran Hidup Dari Naufal

Ini hanya sebuah petikan hikmah yang tertangkap disuatu sore terakhir puasa 2012. Saat seorang anak kecil milik tetangga yang berumur sekitar 2 tahun, kuajak untuk jalan sore naik motor sekedar cari takjil untuk berbuka. Saat yang hendak dibeli sudah selesai, es krim yang dijanjikan buat dia sudah ditangannya. Aku menawarinya lagi untuk mengambil jajanan yang ia inginkan.
“Naufal mau apa lagi,?”
Dia menggeleng. Aneh ini anak, fikirku. Kuambilkan sebauh wafer dan jelly.
“Naufal mau ini, mas beliin yah ...” tanyaku lagi.
Dia kembali menggeleng. Weleh .. kepriwe iki. Aku heran. Soalnya aku jarang melihat anak kecil yang tidak mau waktu ditawari sebuah makanan. Aku tak ingin penasaranku tersimpan lama.
“Kok naufal tidak mau, kenapa?”
Dia tersenyum. Menatap mataku dengan mata beningnya. Dengan suara lirih dia menjawab.
“Kata mamak Naufal, kalo jajan tidak boleh banyak-banyak”. Dan ia kembali tersenyum, masih dengan sepotong es krim ditangannya.
Subhanallah, Allahu akbar.
Sekarang ini, betapa kita dapati banyak saudara kita, atau mungkin kita sendiri yang selalu tidak puas dengan apa yang sudah ada digenggaman kita saat ini. Seringnya, rasa syukur yang membaluti banyak nikmat dari Allah, terlupakan. Dan masih memburu sesuatu yang tak ada digenggaman.
Menuruti nafsu ingin selalu terpuaskan, takkan pernah berhenti. Finisnya hanya liang kubur.  Sore itu, aku belajar dari Naufal.
Dunia, dengan semua perhiasannya. Baik berupa harta, tahta, kuasa, dan yang lain sebagainya. Itu semua hanya sarana untuk mengumpulkan bekal perjalanan pulang ke kampung akherat. Sarana yang bisa digunakan untuk mencapai derajad takwa. Bekal terbaik untuk kelak menghadap Allah saat pertanggungjawaban itu tiba.
Mengambil dunia secukupnya, tapi berusaha mengumpulkan bekal takwa yang sebaik-baiknya. Agar kelak saat pulang ke kampung akherat, kita tak salah membawa bekal. Karena sekali lagi, bukan materi, kuasa, cinta anak istri, atau yang lainnya yang akan menjadi bekal kita menghadap Allah. Melainkan hanya takwa dan amal sholih kita.
Sahabat ... mari berlompa mengumpulkan bekal terbaik kita, bukan mari berlomba mengumpulkan banyaknya “dunia” kita. Ambil secukupnya dari dunia, tapi berusaha mendapat yang terbaik dari yang “cukup” itu.
Selamat melepas ramadhan, semoga kita selalu bisa mengambil pelajaran darinya. (maswe nunut curhat di blog e  alberjowi)

Cincin



 Beberapa waktu yang lalu, di mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya : “Master, saya belum paham mengapa anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman yang ini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk keperluan banyak hal lain.”

Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata : “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah kepasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas.”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda itu merasa ragu ; “Satu keping emas, saya tidak yakin ini bisa terjual dengan seharga itu.”

“ Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar, ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli saharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor : “ Master, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “ Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini, coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksut. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. ia kemudian melapor : “Master, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum sambil berujar lirih : “Itulah jawaban dari pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya, “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas.”

Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilai hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”



“Kutipan dari buletin dakwah Madani”

Allah Maha Adil



Pada suatu hari yang terik seorang musafir bermaksud mencari tempat untuk berteduh. Ia hendak melepas kepenatannya setelah setengah hari pejalanan. Tidak lama kemudian dijumpainya sebuah pohon beringin yang rindang dan berbuah lebat.

Disandarkan tubuhnya yang sudah terasa berat pada batang pohon beringin itu. Sambil tiduran ditebarkannya pandangan ke hamparan sawah di hadapannya. Tampak buah-buah semangka sebesar bola terhampar di sawah itu.

Demi melihat pemandangan tersebut, sang musafir bergumam sendirian, “sungguh tidak adil Allah itu. Pohon beringin yang begitu kokoh dan kuat ternyata berbuah hanya sebesar buah anggur. Sedangkan pohon semangka yang begitu kecil dan rapuh berbuah sebesar bola.” Tak lama kemudian tertidurlah ia di bawah pohon beringin itu.

Tiba-tiba ada sebutir buah beringin jatuh tepat mengenai kepala sang musafir. Ia terbangun. Dalam hati ia berkata, “ seandainya saja buah beringin itu sebesar buah semangka entah bagaimana keadaannya jika buah itu jatuh menimpa orang yang berteduh di bawahnya. Sungguh Allah Maha Adil atas segala sesuatu.” Diucapkannya istighfar berkali-kali untuk mohon ampun kepada-Nya karena telah berani mengatakan bahwa Allah tidak Adil.

Cerita ini mungkin sangat sederhana. Banyak orang sudah pernah mendengar atau membaca cerita tersebut. Namun, sayangnya hanya sedikit saja orang yang bisa mengambil hikmahnya.

Sering orang beprasangka kepada Allah atas segala kejadian buruk yang menimpanya. Bahkan terkadang sampai berani menghujat-Nya dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil sehingga ada yang sampai kehilangan keyakinan terhadap Allah sama sekali.

Baik atau buruknya segala sesuatu itu hendaknya harus disandarkan pada aturan-aturan yang telah diturunkan Allah kepada manusia (Alquran). Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan dan kelemahan.

Seringkali dalam menilai segala sesuatu manusia lebih menekankan pada unsur perasaannya saja. Tidak mengherankan bila timbul prasangka-prasangka buruk kepada Allah, jika yang ada dihadapan/dialaminya itu tidak sesuai dengan yang diharapkannya.

Padahal Allah dengan jelas telah berfirman,

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahu”.. [QS. Al-Baqarah : 216].

Jadi segala sesuatu yang ada di dunia ini, pasti ada sisi baik yang bisa diambil oleh manusia, meskipun dalam pandangannya teramat buruk karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidak sepatutnya manusia mengatakan bahwa Allah tidak adil. Sesungguhnya tidak ada yang bisa melebihi ke-Mahaadilan Allah.


Telaga Cermin



Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpulah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

Kaki-kai mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya melihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau di telaga itu pun lkut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “ akan kuberitahu yang lain. ada seekor harimau yang baik hati di tempat ini.”

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah ia di telaga itu.Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups... kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum,seraya menyembulkan kepalanya kearah lubang telaga. “hei... ada harimau yang edang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, menunjukkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga itu pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

“Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tidak mau berteman dengan harimau yang ada di telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas  pergi.Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, Sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca.  Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”

Sepotong Roti Penebus Dosa



Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan ,bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seorang yang mempunyai sepotong roti.”

Dahulu kala ada sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukan itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk  rayunya dan tergelimag di dalam dosa salama tujuh hari sebagai mana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-istri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan sholat dan bersujud.

Akhirnya dalam mengembara itu ia sampai ke sebuah pondok yang didalamnya sudah terdapat dua belas orang kafir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam disana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sanga jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendita yang ada setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sebuku roti.

Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga pada lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian, karena disangka sebagai orang miskin. Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak dapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku,” Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, Roti yang aku begikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu buku roti. ”Mendengar ungkapan dari orang yang membagi roti tersebut, maka leleki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan mamberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Dihadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sebuku roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sebuku roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya salama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sebuku roti itu!”

Janganlah Berputus Asa




Kebiasaan orang-orang besar yang dekat dengan Allah SWT, adalah berjalan-jalan disekelilingnya. Bukan sekedar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.

Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaanya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah. 

“Aduhai, alangkah malangnya nasib ku ini,”suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Ohh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?”

Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak di berikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.

Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.

Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai Kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak pernah mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku,”ratapnya.

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya , lalu dia pun meneruskan perjalanannya.

Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. “ Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha.  Perbuatan demikian “Malas” namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil.”

Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.

Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telahmemberikan nasihat itu.

Pohon Berduri



Seorang pemuda menanam pohon berduri di depan rumahnya. Walikota menyuruh si pemuda untuk memotong pohon tersebut dengan kapak milik sang pemuda karena kekhawatiran akan bahaya yang tidak hanya mengancam keselamatan si-pemuda tapi juga para pejalan yang kerap lewat di depan rumahnya. Belum lagi bahaya-bahaya lain yang sangat mungkin ditimbulkan dari pohon berduri itu. Namun sialnya pemuda kita ini menggangap enteng dan terus menerus mengundur-undur waktu untuk menebangnya.

Roda waktu berputar tanpa henti. Bulan berganti tahun, pohon berduri itu telah tumbuh membesar, akarnya menghujam jauh kebumi, dahan dan rantingnya kini sudah menjulur kesana kemari. Sementara pemuda ini telah berubah menjadi seorang kakek ringkih. Ketika mengetahui pohon berduri itu telah benar-benar melukai dan menyengsarakan dirinya dan banyak orang, kakek ringkih ini segera mengambil kapak berniat untuk menebang pohon berduri tanamannya. Namun betapa sayangnya ayunan kapak si kakek sudah tidak mampu lagi menggores kokohnya pohon. Usia uzur si kakek telah merenggut kekuatannya untuk menumbangkan pohon berduri tersebut, hasil tanamannya sendiri.

Maulana Rumi, penyair sufi Afghanistan itu menuturkan cerita ini dalam Masnawi-nya. Rumi mengingatkan kepada kita bahwa penundaan untuk menghentikan tindakan buruk hanya semakin mengokohkan keburukan itu sendiri dan melemahkan energi untuk merubahnya. Di dalam hati kita pohon berduri itu tumbuh saat kita melakukan keburukan kpada Allah, diri sendiri dan sesama. Jangan menunggu waktu, karena tiap detik adalah kesempatan mengakarkan, mengokohkan pohon itu disekujur tubuhmu. Ambilah kapak imanmu segera sebelum terlambat untuk menumbangkannya. Penundaan hanyalah melahirkan ketakberdayaan. Kelak saat kapak imanmu tak lagi tajam, tubuhmupun sudah kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri itu bahkan kelak menusuk mata, telinga dan hatimu. Sebelum telingamu bernanah oleh cemoohan, matamu menangis oleh kedukaan tak berujung, dan hatimu berdarah oleh himpitan derita dan azab, tebaslah pohon berduri itu. Janganlah berani melawan waktu, karena waktu selalu menertawakan keringkihanmu.

Mentari dzulhijjah menutup mata sudah. Rembulan satu muharram mengabarkan tahun baru. Jika hidupmu seperti pekat malam, yakinlah selalu ada rembulan dan bintang yang mencerahkan. Sepekat dan segelap apapun hidupmu, setitik cahaya pun mampu mengusir ketakutanmu. Di tengah kegelapan hidup di mekkah dahulu, Rasul membawa sahabat-sahabatnya menjemput cahaya kota madinah. Hijrah, mengubah hidup agar terarah. Hijrah, meneguhkan hidup diatas bimbingan cahaya. Allah adalah cahaya langit bumi. Allah adalah cahaya diatas cahaya (QS. An-Nur : 35).

Tekadmu adalah kapak itu. Tebaslah kini pohon-pohon berduri di hatimu. Renggutlah akar-akarnya. Seperti Ibrahim, kakekmu, menghancurkan berhala-berhala yang membatu disekujur tubuhmu. Belajarlah kini menjadi petani yang selalu merindui hujan. Guyurilah hati dan tubuhmu senantiasa dengan kebeningan rintik ayat-ayat Allah. Tanamlah berlahan benih kejujuran, keikhlasan, kesabaran, tulus hati dan pengabdian kepada Allah. Rawat dan pupuklah mereka secara sabar. Kelak diakhir tahun, saat mereka berbuah, panen raya mendekapmu dalam bahagia. Saat hatimu lega dan bersuka cita, berbagilah dengan sesama. Hatimu adalah surgamu. Bukan pohon berduri yang seharusnya menempati, namun anggur Allah yang mestinya bersemayam. Selamat menanam.


Kutipan beletin dakwah Madani

Air Mata

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada seorang Ustadz melihat seorang anak berwudhu ditepi sungai sambil menangis. Ia bertanya “ Nak, mengapa engkau menangis?”

Anak tersebut menjawab, “ saya membaca ayat alquran. ‘Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’(At-Tahrim : 6). Saya kawatir, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke dalam neraka.”

Ustadz menjelaskan, “ Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tdak berhak memasuki neraka.”

Anak tersebut menjawab, “ Wahai Ustadz, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah ustadz tahu bahwa seseorang yang menyalakan api untuk satu keperluannya, memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang besar?”

Dan ustadz pun menjawab..

Rasulullah SAW bersabda, “ Tiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya satu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat yang menangis niscaya mereka akan di rahmati. Tiada suatu amalpun kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air mata. Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.”

Tangisan orang-orang shalih telahir dari khouf(rasa takut). Karena, dengan rasa takut inilah, perbuatan-perbuatan dosa dapat dilenyapkan. Rasulullah menjelaskan, apabila badan seseorang gemetar karena takut kepada Allah, maka jatuhlah segala kesalahannya sebagaimana jatuhnya dedaunan dari pohonnya di musim kemarau.

Maka, Air mata yang jatuh karena takut kepada Allah akan menumbuhkan jiwa yang selalu merasa diawasi Allah, ia akan bersikap wara’( bersikap hati-hati), dan dia akan menjaga dirinya dari perbuatan yang mengundang murka Allah.

Karena Setiap Kita Adalah Mutiara



Mitiara. Awalnya itu bukan apa-apa. Hanya butiran pasir dan debu kotor. Yang tak ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya, detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya. Dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran. Pun kemudian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu saja, kerena ia harus dijemput dikedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan bukan tidak mungkin terhenti di tengah jalan.

***

Mungkin engkau pernah merasa dirimu bukan apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, engkau membenci dirimu sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia. Begitu banyak kekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat orang lain yang nampak lebih sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan, rasanya kau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain begitu banyak memiliki kelebihan sedang aku tidak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa aku buruk sedang orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil sedang aku selalu gagal? Mengapa orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu ‘mengapa’ lainnya yang akan membuat kita kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangan-kekurangan yang kita miliki.

Padahal saya percaya, setiap kita tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhluk-Nya hanya dengan kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya mudharat saja tanpa manfaat, atau sebaliknya. Pun kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang imbang. Dia yang Maha kuasa membekali manusia dengan segala kebaikan, menjadikan setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang kita alami telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di masa kecil kita, kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.

Padahal, ibarat mutiara, kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Ya, sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran keindahan kita masing-masing, seperti apapun adanya kita awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.

Rintangan, hambatan, pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun orang lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, membuka telinga dan membuka hati.

Hanya satu awal yang perlu kita lakukan: itikad dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi mutiara seperti apa yang engkau inginkan?
***
Kutipan dari buletin dakwah Madani

Kamu Kaya tapi Gila, MAU?



Dahulu ada seseorang yang miskin mengadukan kondisi kemiskinannya kepada seorang Ahli ilmu,  dia menampakkan kegundahan hati atas keadaanya tersebut,  mendengar dan melihat kondisi orang miskin tadi, sang alim menasehatinya dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan. " sukakah kamu jika matamu menjadi buta dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham sebagai gantinya ?" tanya sang alim. " jelas saya tidak suka " jawab si miskin. Kalau begitu sukakah engkau menjadi buta dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham "?. " tentu saja tidak suka " jawabnya. " sukakah kamu jika engkau menjadi gila dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham?". " tentu saja aku tidak suka " jawab si miskin kesekian kalinya.

      mendengar itu semua sang alim pun melontarkan nasehat emasnya. " apakah engkau tidak merasa malu kepada Allah, padahal engkau mempunyai barang yang nilainya lebih berharga dari puluhan ribu dirham "? Nasehatnya. Si miskin pun tersadar atas sikap ketidaksyukurannya.

Dari kisah diatas, pukulan yang telak bagi kita, apabila selama ini kita merasa kurang atas nikmat yang telah diberikan Allah. kita selalu mengeluh  dengan keadaan kita, yang merasa rendah dari orang lain, terutama dalam hal harta. Padahal kita ini ibaratnya mempunyai barang yang tidak bisa dinilai lagi dengan uang sebanyak apapun, yaitu nikmat kesehatan.

Maka syukurilah keadaanmu sekarang, jika dalam hal harta kamu merasa kurang, ketahuilah dengan kesehatan yang kau rasakan saat ini, harta itu bisa engkau cari, Bisa engkau kumpulkan, dan bisa engkau nikmati. Apa gunanya memiliki harta yang banyak, tetapi tidak memberi manfaat sedikitpun bagi kita. Saat kita sakit ia tidak bisa meredakan sakit itu, karena yang dibutuhka orang yang sakit bukanlah harta yang banyak, tetapi suatu kesembuhan, untuk mendapatkan kesehatan.

 Oleh karena itu syukurilah apapun keadaanmu sekarang, berhentilah untuk mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Semua ketetapan Allah itu tak ada yang sia-sia, jika belum engkau rasakan keindahannya, yakinlah mungkin belum waktunya.