QS. Al-Hadid : 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. .

QS. Al-An'am : 153

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS. Al-Israa' : 9

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.

Hadits Rasulullah SAW

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan).

QS. Al-Israa' : 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Cara Taubat Yang Benar

Allah SWT telah memberikan petunjuknya kepada kita, tentang bagaimana cara bertaubat yang benar, sehingga taubatnya itu diterima oleh Allah. Tapi sebelumnya perlu kita ketahui, taubat yang bagaimanakah yang diterima Allah? Allah berfirman dalam surat An-Nisa’ : 17..

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dari ayat tersebut, Allah mengatakan bahwa taubat yang diterima disisi-Nya ialah taubat bagi orang yang melakukan kemaksiatan karena kejahilan/karena ketidaktahuaannya dan taubatnya itu dilakukan dengan segera, maksudnya setelah ia mengetahui kalau itu perbuatan dosa, ia langsung berhenti melakukan dosa itu dengan tidak menunda-nundanya, kemudian bertaubat dan mohon ampun kepada Allah. Taubat yang seperti itulah yang diterima Allah.

Langkah-langkah apa yang harus dilakukan bagi orang yang ingin bertaubat? Langkah-langkahnya adalah sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 53-58 dibawah ini

53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

54. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

55. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,

56. supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), 

57. atau supaya jangan ada yang berkata: 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa'.

58. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab 'Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'.

Dari petunjuk ayat tersebut, langkah-langkah yang harus kita lakukan apabila ingin bertaubat ialah :

1.jangan berputus asa dari Rahmat Allah, karena Allah itu Maha Pengampun

2.Orang yang bermaksiat sudah pasti orang itu sedang jauh dari Allah, maka dari itu Allah memerintahkan supaya kembali kepada-Nya dengan berserah diri, tunduk patuh terhadap Allah

3.Cara tunduk patuh terhadap Allah ialah dengan mengikuti sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadanya, maksudnya mengikuti Al-Quran, sekalipun dengan mengikuti al-quran itu bertentangan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia sukai

4. Allah memberikan petunjuknya ini supaya jangan ada penyesalan diakherat kelak, karena Allah itu Maha kasih sayang pada hamba-hambanya, kalau ingin menyesal ya didunia ini mumpung masih hidup dengan cara segera bertaubat kepada Allah dari kemaksiatan itu, dengan mengikuti petunjuk-petunjuknya di dalam Al-Quran. Dan ditambah lagi berbuat kebaikan yang banyak, karena kebaikan itu bisa menutup keburukan yang pernah dilakukan..


Sabtu, 22 Desember 2012

Inilah Jalan Lurusmu

Surat Al-Fatihah adalah surat yang paling sering di baca oleh seorang muslim, karena surat Al-Fatihah termasuk dalam rukun shalat yang harus di baca, bahkan didalam hadits di sebutkan bahwa tidak sah shalat seseorang apabila dalam shalatnya tidak membaca surat ini. Itu berarti setiap orang islam pasti hafal dengan surat ini. Dan tidak sedikit pula yang hafal artinya, dari arti ayat yang pertama hingga arti ayat yang terakhir.


Paling tidak, minimal 17 kali surat ini di baca dalam sehari, belum lagi kalau ditambah dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah, tentu akan dibaca lebih banyak lagi. Akan tetapi walaupun sering di baca setiap hari dan berulang-ulang, kenyataannya tidak sedikit orang yang tidak faham tentang maksut surat Al-Fatihah ini, meski ayatnya sering di baca,tetapi kalau maksut surat itu tidak pernah dipahami, tentu tidak akan bisa paham tentang isi kandungan surat Al-Fatihah ini.

Satu contoh, pada ayat 6 dalam surat Al-Fatihah ini yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Kita setiap hari itu selalu membaca ayat ini, suatu ayat yang berupa permohonan, kita selalu minta kepada Allah supaya ditunjukkan kepada jalan yang lurus. jika kita mau mengkaji Alquran, sebenarnya Allah sudah menerangkan kepada kita bahwa jalan lurus adalah “Alquran”. Allah menerangkannya dalam surat Al-An’am : 153...
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[521], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
[521]. Maksudnya: janganlah kamu mengikuti agama-agama dan kepercayaan yang lain dari Islam.

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Alquran, maka Allah pun memerintahkan juga supaya diikuti Alquran itu, dan Allah melarang kita janganlah mengikuti jalan-jalan yang selain Alquran, karena jalan lain yang selain Alquran hanya akan mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah.

Dengan memahami ayat tersebut, marilah kita merenung, setiap hari kita selalu meminta kepada Allah supaya ditunjukkan pada jalan yang lurus, dan setelah Allah menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Alquran. Maka sudah saatnya-lah kita kembali kepada kitab suci kita, yaitu Alquran, tidak hanya sekedar kita baca Ayatnya,tetapi kita pahami tiap-tiap ayatnya, dan dari ayat yang sudah kita pahami itu kita amalkan semaksimal mungkin, bila itu suatu perintah maka kita laksanakan, dan apabila itu suatu larangan maka kita berusaha untuk menjahui larangan itu.

Aneh rasanya apabila kita meminta sesuatu, dan permintaan itu sudah diberikan kepada kita, kemudian permintaan itu malah kita tolak, Maka sebagai konskuensi dari permintaan kita kepada Allah, konskuensinya adalah kita ikuti apa yang kita minta itu, yaitu kembali kepada Alquran.

Semoga bermanfaat............

Kamis, 20 Desember 2012

Jangan Teperdaya Dengan Dunia



 Karena Allah Ta’ala yang telah menciptakan dunia ini telah menyatakan begitu tegas dan gamblang kepada kita apa sebenarnya dunia ini, baik dengan nash maupun dengan berbagai perumpamaan, Allah SWT juga memperingatkan hamba-hamba-Nya supaya jangan sampai teperdaya dengan dunia, seperti dengan beberapa Firman-Nya berikut :

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.[QS. Faathir :5]

....Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[QS. Ali ‘Imran : 185]

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.[QS. Al-Hadiid : 20]

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.[QS. Al-Kahfi : 45]

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak berpikir? [QS. Al-Qashash :60]

Maksudnya adalah apakah engkau tidak punya akal yang engkau gunakan untuk mempertimbangkan manakah yang lebih patut untuk diutamakan, dan negeri mana ynag lebih patut menjadi tujuan utama dalam beramal? Itu semua menunjukkan bahwa manusia dengan akalnya cukup mampu untuk memilih akherat daripada dunia, dan bahwasannya tidak ada yang lebih mengutamakan dunia, kecuali karena ada kekurangan pada akalnya.[Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Al-Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di ketika menafsirkan ayat 60 surat Al-Qashash]

Ulama Terdahulu Menilai Dunia




‘Ali bi Abi Thalib berkata; “barang siapa bersikap zuhud di dunia, maka ringanlah segala musibah, dan barang siapa siap menghadapi maut, dia bersegera melakukan kebaikan-kebaikan”. [Tasliyah Ahl Al-Masho’ib karya Al-Manbaji hal. 328-329]

Hasan Al-Bashri berkata ; “Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya aku telah mengalami hidup dari beberapa kaum yang menganggap dunia lebih hina dari tanah yang mereka injak ketika berjalan”. [Tasliyah Al-Masho’ib karya Al-Manbaji hal.328-329]

Hindun binti An-nu’man bin Al-Mundzir berkata: “sesungguhnya aku telah mengalami keadaan ketika kami menjadi bangsa paling jaya dan paling kuat kerajaannya, bahwa belum lagi matahari terbenam tiba-tiba kami menjadi bangsa paling miskin. Sesungguhnyalah, bahwa Allah pasti tidak akan memberi, suatu kegembiraan pada suatu negeri, kecuali memberinya pula suatu pelajaran”. [Al-Adab Asy-Syar’iyah karya ibnu Muflih 2/178]

Begitulah diantara para pendahulu kita menilai dunia ini, pada hakikatnya kesenangan dunia tidaklah kekal, kadang merasakan kebahagiaan dan kadang juga merasakan kesedihan, maka dunia jangan dijadikan tujuan, tapi jadikanlah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sa’id bin Al-Musayyab berkata : “ tidak ada baiknya orang yang tidak ingin mengumpulkan harta secara halal, agar dapat menahan dirinya dari meminta kepada sesama manusia, bersilaturahim dengan sesama kerabatnya, dan memberikanya kepada orang lain sebagaimana mestinya”. [Mukhtashor Minhaj Al-Qoshidin hal. 196]

Seorang ulama salaf juga mengatakan : “jadikan harta sebagai sandal, agar kamu bisa terhindar dari duri dan panasnya terik matahari, dan janganlah kamu menjadi sandal dari harta”.

Karena itu, Alangkah bahagianya orang yang di karuniai Allah keyakinan dan mata hati tentang hakikat dunia, sehingga dia tidak teperdaya dengannya ataupun sedih karenanya, dan tidak pula merasa keberatan atas tidak diperolehnya suatu keberuntungan dunia.

Rabu, 19 Desember 2012

Alquran adalah solusi dari semua permasalahan



Belumkah jadi keprihatinan kita melihat keaadan negeri ini yang kacau-balau, yang sudah diambang kehancuran, yang benar dianggap salah dan yang salah dibiarkan, korupsi terjadi dimana-mana, tak hanya dikalangan pejabat, dari kalangan perangkat desa pun banyak yang melakukan korupsi, tak hanya perorangan bahkan sekarang karupsi itu juga berjamaah. Perzinahan dibiarkan bebas, malah dibikinkan tempat atau lokalisasi, perjudian dan minum-minuman keras tak dapat lagi diantisipasi.

Kemudian generasi bangsa ini, yang nantinya kita harapkan menjadi generasi yang lebih baik, yang dapat memperbaiki keadaan yang sedemikian rusaknya ini, malah menjadi pelaku tawuran, tawuran antar pelajar, tawuran antar mahasiswa dan seringkali terdapat korban yang tewas dalam tawuran itu.

Dan anehnya lagi saudara kita yang ikut rohis disekolahannya, malah diberi label sarang perekrutan generasi teroris muda, benar benar sudah rusak negeri ini dan cara berpikirnya pun sudah rusak juga, yang benar dianggap salah, bahkan tidak hanya dianggap salah tetapi dihalang-halangi juga jalannya. Dan yang salah dibiarkan saja. Dan andaikan dihukum pun, hukumannya tak sebanding dengan perbuatannya.

Mengapa semua ini terjadi dinegeri kita, yang katanya mayoritas beragama islam, apakah islam mengajarkan itu semua? Atau umat islam yang tidak taat pada agamanya? Jawaban pastinya adalah bukan islamnya yang salah tetapi manusia yang mengaku beragama islam yang salah, dan itu semua menandakan bahwa umat islam ini tidak lagi memakai aturan agama, agama hanya dijadikan identitas saja. Cobalah kita jujur, seberapa banyak ajaran islam yang sudah kita ketahui? Dan seberapa banyak dari yang kita ketahui itu yang sudah kita amalakan? Tentu jawabannya sangat sedikit ilmu agama ini yang sudah diketahui.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan Al-quran dan As-Sunnah sebagai solusi dari setiap permasalahan, baik permasalahan pribadi, keluarga, masarakat dan lebih besar lagi masalah negara, pasti akan ada solusinya di dalamnya, kalau agama sudah menjadi solusi dari apa yang diperselisihkan, maka tak akan ada yang merasa benar, karena kebenaran itu datangnya dari Allah.

Merubah Pola Pikir


Ada sementara manusia, yang apabila diajak kembali mengikuti aturan atau hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, mereka tidak mau, malah kadangkala menolak ajaran itu walaupun itu datangnya dari Allah. padahal perbuatan mereka menyimpang dari ketetapan Allah, bahkan sampai mengingkari kebenaran-Nya,  dan sebagai alasannya mereka mengatakan “ ajaran itu bertentangan dengan adat istiadat di desa kami, sudah dari dulu kebiasaan ini kami lakukan, turun-temurun dari nenek moyang kami, dan berbagai alasan lainnya “. Maka dengan alasan itu mereka lupa bahwa yang memerintahkan itu Allah. Zat yang menciptakan manusia.

Keadaan seperti ini, pas sekali dengan firman-firman  Allah, yang telah diterangkan-Nya di dalam Alquran:
  
   Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". [QS. Al-Baqarah : 170]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (QS. Al-Baqarah: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, serta memberikan kabar gembira, memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta adzab-Nya. Rafi' bin Huraimallah dan Malik bin 'auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: "Hai Muhammad! Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar da lebih baik daripada kami." Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa'id atau 'Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)


Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? [QS. Luqman : 21]

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. [QS. Al-Maidah :  104].

Ayat-ayat diatas sebenarnya ditujukan untuk orang-orang kafir, akan tetapi banyak saudara seiman kita ( yang beragama islam), cara berpikirnya masih sama dengan orang-orang kafir diatas, yaitu apabila diajak kembali mengikuti Al-quran dan Sunnah Rasulullah, mereka tidak mau. Entah itu karena ketidaktahuannya tentang islam, atau malah sebenarnya mereka tahu bahwa itu ajaran islam, tetapi karena ajaran tersebut bertentangan dengan ilmu yang telah ia dapatkan dari nenek moyangnya, karena bertentangan dengan adat istiadatnya, bertentangan dengan peraturan kampungnya, dan sebagainya. sehingga kebenaran Al-quran dan Sunnah Rasulullah mereka tolak.

 Maka Tugas berat bagi kita, apabila menjumpai desa yang cara berpikirnya masih seperti diatas, yaitu masih metradisikan warisan nenek moyang yang sebenarnya itu menyimpang dari ajaran islam dan mereka anggap tradisi itu adalah sebuah kebenaran, yang mestinya dilestarikan. Merubah masyarakat yang seperti itu tidaklah gampang, namun bukan berarti tidak bisa dirubah,  perlu waktu dan usaha yang keras dan diiringi dengan kesabaran dan keistiqomahan. Insya Allah apabila kebenaran itu terus dimunculkan, lama-lama yang batil akan sirna dengan sendirinya, karena pada hakikatnya kebatilan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan manusia.

Selamat berjuang saudaraku, dakwahkan islam dimanapun kamu berada.....

Membiasakan Diri Seperti Di Bulan Ramadhan


Ramadhan belum lama pergi meninggalkan kita, sejenak kita mengenang amalan amalan yang biasa kita lakukan dibulan Ramadhan, untuk kita terapkan juga di bulan sesudahnya, kalau sebelum ramadhan kita tidak biasa bangun malam, maka setelah menjalani bulan ramadhan kita telah terbiasa bangun malam sebelum shubuh untuk makan sahur, maka setelah ramadhan usai, sebaiknya kebiasaan itu tetap kita lakukan, meskipun tidak untuk makan sahur, tetapi bisa kita gunakan untuk, shalat tahajjud, atau sekedar membaca Alquran, atau yang masih sekolah kita gunakan untuk belajar.

Jika sebelum Ramadhan kita tidak biasa shalat berjamaah, kemudian pada saat ramadhan kita terbiasa shalat berjamaah, biasanya shalat isya’ dan shalat shubuh, karena menurut yang saya amati dua shalat itulah (yang pada umumnya) banyak jamaahnya dibulan ramadhan. Kenapa hanya dua shalat itu yang pada umumnya banyak jamaahnya dibulan ramadhan? Setelah kita coba amati, sebabnya adalah, bila pada bulan ramadhan waktu shalat isya’ itu banyak jamaahnya, karena kebanyakan orang mau menjalankan shalat terawih, karena shalat terawih dikerjakan sesudah isya’, mau tidak mau mesti melakukan shalat isya’ duhulu, kemudian, kenapa shalat shubuh banyak juga jamaahnya dibulan ramadhan? Karena sebelumnya telah terbangun dahulu untuk melakukan makan sahur, sehingga mumpung masih terjaga, sekalian juga melaksanakan shalat shubuh di masjid. Setelah ramadhan pergi kenyataannya keadaan masjid sekarang tak seramai waktu bulan ramadhan, yang biasanya pada waktu ramadhan shalat berjamaah, setelah ramadhan usai tidak kelihatan lagi, maka Alangkah baiknya kebiasaan shalat berjamaah dibulan ramadhan, kita biasakan juga dibulan sesudahnya.

Jika dibulan Ramadhan kita sudah terbiasa melakukan puasa, bahkan mungkin sampai sebulan penuh, maka kebiasaan itu tetap bisa kita lakukan dibulan sesudahnya, yaitu dengan melakukan puasa sunnah, bisa puasa sunnah syawwal, puasa sunnah seninkamis, puasa sunnah 3hari dalam sebulan, dan puasa puasa sunnah lain yang dituntunkan oleh Rasulullah. Jika di bulan ramadhan bisa kita melakukan puasa sebulan penuh, kenapa kita tidak bisa melakukannya dibulan yang lain? Saya rasa itu lebih mudah...karena sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan, akan terasa mudah untuk dijalani, dan akan terasa ringan untuk dilakukan.

semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua...

Islam Bukanlah Teroris!!!


“Islam bukan teroris, dan teroris bukanlah ajaran Islam” Ucapan yang tegas, ucapan yang benar yang harus kita serukan sebagai seorang muslim, yang selama ini seringkali dikait-kaitkan dengan berbagai teror yang terjadi dinegeri kita, Islam tidak pernah mengajarkan bagi pemeluknya untuk mencapai sebuah tujuan dengan cara berbuat teror. Islam adalah agama yang membawa kedamaian, membawa kerukunan, dan ajarannya bisa diterima oleh akal sehat.

Berbuat teror itu bisa dilakukan oleh siapapun, bisa dilakukan oleh orang islam, kristen, hindu, budha, rakyat, aparat, perorangan ataupun berkelompok, pokoknya bisa dilakukan oleh siapapun yang tujuannya adalah untuk menakut-nakuti, atau berbuat teror agar supaya yang jadi sasarannya merasa takut, dan teror ini bisa juga ada kaitannya dengan berpolitik.

Tidak adil rasanya apabila tiap terjadi teror di negeri ini, entah itu yang berupa pengeboman, penyerangan, dan teror-teror dalam bentuk lain, selalu yang pertama dicurigai adalah orang islam, karena sekali lagi teror itu bisa dilakukan oleh siapapun, jadi belum tentu yang berlaku teror itu pelakunya adalah orang islam.

Tidak ada satupun dalil dalam Alquran atau contoh dari Rasulullah yang memerintahkan atau mencontohkan bagi pengikutnya, untuk mencapai sebuah tujuan dengan cara berlaku teror kepada kaum kafir, sepanjang sejarah dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah itu dengan lemah lembut, agar supaya orang yang kafir itu masuk islam bukan karena takut dengan teror-teror, atau dengan paksaan, tetapi yang dikehendaki beliau adalah orang kafir masuk islam karena mengerti bahwa islam itu baik, islam itu lemah lembut, islam itu indah dan islam itu membawa kedamaian.

Tidak ada kaitannya sama sekali antara teroris dengan islam, karena islam tidak pernah mengajarkan untuk berbuat teror, atau menjadi teroris, kalaupun ada umat islam yang berbuat teror, atau menjadi teroris, jangan disangkut-pautkan dengan islam, karena islam tidak mengajarkan teroris, jadi bukan islamnya yang salah tetapi orangnya, sekali lagi “jika ada umat islam yang berbuat teror, menjadi teroris, BUKAN ISLAMNYA YANG SALAH, tetapi ORANGNYA”, jadi jangan membuat bingung.

Khusus untuk bapak kepolisian “ jika tiap teror yang terjadi dinegeri ini, selalu yang pertama anda curigai dan fokus anda hanya kepada umat islam saja, maka bisa jadi pelaku yang sebenarnya, malah tenang-tenang saja, tidak khawatir kalau anda tangkap, sebab fokus anda hanya pada umat islam. Sekali lagi, BERBUAT TEROR BISA DILAKUKAN OLEH SIAPAPUN, jadi janganlah anda fokus pada umat islam saja, tegakkan hukum, dengan adil ”.